dialog
Sekarang Lidahmu yang menyapu lidahku
Mari kita berbicara
Bukan dengan kata
Namun dengan bibirmu yang menyentuh bibirku
Dan dari sana akan kubagi lukaku
Dan kuhirup sakitmu
Kusesap masa lalumu
Yang terjadi sebelum aku
Sampai kemudian aku menjadi bagiannya
Menari dalam semesta yang kita buat
Melukis gambar-gambar monokromatik
Yang berkilas dengan cepat
Yang kita bagi berdua dan menjadi rahasia kecil kita
Kota
Debu jalanan
Lampu kota yang angkuh
Peluh
Deru mesin mencengkeram aspal
Makian yang tertelan riuh
Asap kelabu dari knalpot
Memenuhi paru-paru dengan racun
Pria paruh baya yang pusing memikirkan hutang
Gadis muda yang gelisah karena memikirkan tas kulit yang tak terbeli
Seniman jalanan yang masih setengah mabuk
Bernyanyi sengau tapi tak peduli
Pencuri-pencuri dompet yang panen di bis kota
Trotoar yang tidak bisa dilewati karena penuh pedagang
Balon merah yang melayang tanpa arah
Anak kecil menangis keras karena kehilangan balonnya
Veteran yang lelah berkeliling menjaja kalender bergambar pak presiden
Manusia bersorban yang sudah yakin akan masuk surga
Jam yang berdetak terlalu cepat
Ah
Aku ingin lekas berlindung di balik tembok rumah
Ada 7 draft di dalam dashboard Tumblr saya
Yang berteriak mengingatkan saya
Betapa saya kini takut menjadi diri sendiri
Betapa saya kini takut untuk menggumam apa adanya
Jadi ingat, salah satu teman kampus yang pernah ngomong “Impian gue adalah mati lebih dulu daripada elo-elo semua yang ada di sini!”
Sedikit banyak saya ingin mengatakan sesuatu dengan nada yang sama seperti cara dia mengatakan kalimat tersebut,”Gue muak sama elo-elo semua yang ada di sini!”
SEMPURNA #HOEK
Gini, kalau mau sesuatu yang sempurna, coba kamu balik badan, cari cermin, lalu tanya…
Apa kamu juga sudah sempurna?
Apa kamu juga sudah memberikan sesuatu yang sempurna agar mendapat hasil yang sempurna?
Kalo gue, adanya Sempurna Mild.
Mau?
Apa orang bisa mati hanya karena terlalu banyak berpikir?