Ronggeng Dukuh Paruk, Tembang Merdu yang Getir
Ronggeng Dukuh Paruk adalah satu dari rangkaian trilogi buah karya Ahmad Tohari, penulis yang namanya hanya saya dengar dalam pelajaran Bahasa Indonesia. Membaca novel ini, membawa saya pada gaya penulisan yang benar-benar baru bagi saya. Membuat saya terpesona sekaligus membuka mata saya, betapa kayanya Bahasa Indonesia itu.
Lembar-lembar pertama novel ini diawali dengan penggambaran betapa sederhananya kehidupan warga desa kecil bernama Dukuh Paruk. Melalui kalimat yang indah dan banyaknya penggambaran tentang alam dan ilmu tentang semesta, Ahmad Tohari tetap mampu menyampaikan bersahajanya orang-orang kecil.
Adalah Rasus pemuda Dukuh Paruk, dan Srintil, gadis kecil yang ditakdirkan menjadi seorang ronggeng. Diawali dari masa kecil mereka yang polos, perjalanan berlanjut pada kisah Srintil ketika dia akhirnya menjadi Ronggeng dan bagaimana hal ini menghancurkan hati Rasus dengan satu alasan.
Pada akhirnya Rasus hengkang dari Dukuh Paruk, meninggalkan luka di hati Srintil. Tak sampai di situ, Srintil kelak mengalami lebih banyak luka karena cintanya pada Rasus, dan juga karena profesinya yang sebagai Ronggeng.
Menurut buku ini, Ronggeng tidak sekedar digambarkan sebagai penari cabul pemuas nafsu lelaki, namun betapa sebenarnya profesi penari Ronggeng adalah suatu bagian yang penting dalam keseimbangan antara lelaki dan perempuan. Betapa Ronggeng ternyata memiliki peran yang lebih penting dari sekedar seniman penghibur syahwat.
Semua dibalut dalam rangkaian kalimat dan analogi seakan paragraf-paragraf di dalamnya sesungguhnya adalah baris puisi, bukan sekedar novel. Ada bagian yang manis, namun ada pula yang getir.
Novel ini sangat saya rekomendasikan, terutama untuk penyuka sastra. Mungkin untuk yang terbiasa membaca karya-karya modern dengan bahasa yang lugas dan “gaul” akan kurang tertarik membaca buku bergaya tulisan lama ini, tapi dengan membaca Ronggeng Dukuh Paruk akan sangat menambah khasanah bahasa.
Kisah yang dibawanya pun bukan kisah indah ala novel percintaan, melainkan cerita yang bersahaja, mengandung serpihan sejarah dan budaya. Berisi romansa, sekaligus elegi, kental akan pola hidup masyarakat desa dan penggambaran yang cukup detil tentang Ronggeng pada hakekatnya. Bukan Ronggeng yang kita kenal selama ini melalui film-film atau acara TV.
Sebentar lagi pun filmnya akan diputar di layar lebar dengan judul Sang Penari. Setelah membaca bukunya, saya jadi tidak yakin mau menonton film tersebut karena takut akan merusak keindahan yang sudah saya dapat dari novel Ronggeng Dukuh Paruk.
Saya berterimakasih pada @natalixia yang mau meminjamkan novel indah ini :)