Majalah Design Grafis. Idealisme vs Income.

Ada beberapa majalah desain grafis atau visual art yang sempat saya ikuti. Sebutlah beberapa di antaranya “C” dan “V”. Kedua majalah ini disajikan dalam desain layout yang menarik, nyeni banget lah, dan juga kualitas kertas yang eksklusif. Belum lagi isi dari majalah tersebut. Bermutu, penuh info dan ulasan yang bergizi untuk pekerja maupun penikmat seni.

Tapi itu dulu.

Seiring berjalan waktu, kedua majalah tersebut lama-lama berubah menjadi mirip katalog iklan. Kalau ibarat makanan, protein dan vitaminnya makin sedikit, tapi lemak dan karbohidratnya makin banyak. Jadi penyajiannya saja yang bagus, tebal, tapi vitaminnya sedikit.

Artikel2nya mulai “biasa”, mengikuti arus, dan banyak mengulas topik-topik di luar segmentasi mereka pada awal mula. Bahkan tidak jarang berisi promo terselubung. Belum lagi banyaknya halaman-halaman iklan.

Tidak seberuntung C, majalah V malah terpaksa gulung tikar padahal baru jalan sebentar. Padahal waktu baru-baru keluar, majalah ini cukup mencuri perhatian saya. Sayangnya, harganya itu nggak nahan di kantong.

Harus diakui, memang mempertahankan idealisme dalam dunia visual art atau desain grafis itu bukan pekerjaan mudah. Karya yang bagus, harus diimbangi dengan modal yang kuat. Tapi, karya bagus dengan penyajian maksimal pun ternyata tidak selalu dihargai dan menghasilkan feedback yang setara padahal modal sudah habis banyak.

Menurut kacamata saya, itu lah yang terjadi pada kedua majalah elite ini. Dengan material cetak yang mewah, mereka butuh modal yang kuat, maka diperlukan pula banyak slot iklan, dan harga jual yang tinggi. Dan mungkin, keuntungan yang didapat dari hasil penjualan tidak bisa menutupi ongkos produksi.

Cara lain adalah dengan memperluas segmentasi agar target marketnya menjadi lebih luas. Makanya artikelnya pun kemudian tidak hanya fokus pada seni visual, namun merambah sejarah, entertainment, maupun recent issues. Yang mana daripada, saya melihatnya sebagai kemunduran.

Untuk tipe orang yang lebih mementingkan isi daripada kemasan seperti saya, sesungguhnya saya lebih menyukai jika majalah desain hadir dalam bentuk yang lebih sederhana namun istimewa pada isinya. Benar-benar berkonsentrasi pada, misalnya, desain grafis, sejarah seni rupa, tips menggunakan alat gambar atau software desain, dan sejenisnya.

Namun, kembali lagi, mungkin secara angka, jumlah target pasar dengan karakteristik seperti saya tidak banyak. Maka majalah desain dan seni rupa lebih memilih untuk menomorduakan idealisme demi mempertahankan kelangsungan hidup mereka. Tidak bisa disalahkan.

Maka, untuk sementara, sampai saya kembali menemukan makanan sehari-hari seperti majalah “C” pada zaman saya masih kuliah dulu, saya lebih memilih utk tidak berlangganan majalah apapun. Mudah-mudahan, kelak, akan muncul kembali majalah desain dan seni rupa yang sarat vitamin walau tidak memakai kertas berkualitas tinggi. Entah kapan, tapi pasti akan muncul.